andesite dan batuan yang ‘menyertainya’… (model petrogenesis andesit secara umum)

ini batuan basi di jawa barat! kenapa?? yaaaah…. begitulah adanya!! haha

bukan bukan bukan!! mari kita lihat lebih dekat.. dia adalah sesosok mahasiswi fakultas sastra berambut sedikit pirang (gak pake pemirang kayak bule celup di kampus kita ya sob) sedikit bergelombang, kulit di daerah hidung agak berbintik, hidungnya mancung, matanya biru, tinggi 179 cm, bila melirik…. sejenak jiwa anak adam yang telah puber terlepas dari raganya…

kurang lebih ilustrasinya seperti gambar dibawah ini

senyumnya seperti embun di gurun sahara

andesit adalah batuan vulkanik yang bertekstur afanitik-porfiritik, dengan kandungan fenokris barupa sodik plagiklas, piroksen, dan/atau hondblenda (Raymond, 1984). karena analsiis modal terkadang bisa menyesatkan (apalagi kalau andesitnya udah keubah dan mineral-mineral yang ingin di observasi banyak yang ‘hilang’) maka andeist menurut Raymond (2002) secara definitif adalah batuan vulkanik afanitik sampai porfiritik dengan kandungan silika 52-63 %, dengan kombinasi alkali (Na2O+K2O) kurang dari 7% dan Na2O>K2O. etimologi namanya berasal diambil dari nama pegunungan andes di amerika selatan.

teksturnya? mineraloginya?

ok, sodic plagioclase (An) bersama hornblende merupakan fase phyric (fenokris yang gede2) yang mengisi andesit (logis juga melihat andesit ini batuan intermediet maka seri bowen pun yang berada ditengah2 antara deret kontinu dan diskontinu). tapi secara mineralogi komposisi mineral yang ngisi andesit bisa bervariasi (utk deret kontinu bisa dari sodic-calcic An30-80), ortopiroksen, augit, horndblenda, dan biiotit bisa hadir mengisi fenokris. fase oksida biasanya diisi oleh magnetit dan ilmenit, juga bisa hadir sebagai fase firik tapi biasanya cuma sebagai matrik (bareng groundmass).

bagaimana dengan matriks (groundmass) nya? secara umum isinya plagioklas, piroksen, gelas, atau kombinasi ketiga material ini. beberapa fase lain yang biasanya bisa hadir dalam andesit termasuk olivin, kuarsa dan trakadang (jarang) ada potasium feldspar. senokris sebagai fase yang tidak umum, dan alterasi yang hadir (jika ada) ada aegirin, kkordierit, apatit, sfene, anortoklas, berbagai jenis zeolit, kalsit, celadonite, epidot, pumpellyte, klorit, hematit, dan pirit.

secara tekstural andesit hadir sebagai batuan afirik gelas (gak punya fenokris) hingga holokristalin bertekstur afanitik-porfiritik. tekstur vitrphyric (intersertal) bisa muncul dan trachyidal (seperti basalt) yang menunjukan adanya aliran, tapi intergranular-porfiritik adalah yang paling khas (ya iyalah dia kan intermediet pasti matrik sama fenokrisnya 50:50 biasanya… tidak selalu) breksi hadir umumnya diantara batuan andesit dan yang berhubungan, serta batuan lain seperti tuff bisa ikut-ikutan meramaikan kehadiran si andesit ini. tekstur plagioklas yang hadir biasanya punya zoning. struktur yang hadir hampir sama kayak basalt dan endapan aliran lava vulkanik lainnya: bisa scoria, vesikular, pillow, atau columnar (nah.. yang ini banyak biasanya nih..).

pada boninite (andesit dengan nilai Mg tinggi Mg>0.7), pada fase piriknya ada ortopiroksen, klinopiroksen, (augit, pigeonit, dan klinoesntatit), dan olivin. gelas hadir sebagai matrik, pada dasit (SiO2>63%) umumnya juga hadir menyertai andesit memiliki fase pirik berupa sodik plagioklas, kuarsa, biotit, dan horndblenda atau augit. alkali feldspar (potas feldspar) dapat juga hadir, khususnya mengisi matrik yang kebanyakan juga diisi oleh plagioklas dan gelas atau juga kuarsa.

bagaimana kimianya?? (oh tuhan… ini bagian yang paling membosankan! hahaha)…

ok, andesit berbeda dengan batuan volkanik yang lain (basalt dan ryolit) karena dia berada somewhere agak lebih dalam (dibawah permukaan) dan dia sudah banyak keubah sehingga eror eror bisa terjadi saat analisis. eror ini terjadi karena: kehadiran pengotor (xenokris dan xenolit) umumnya hadir dalam singkapan intrusi andesit, dan yang kedua karena banyaknya alterasi yang terjadi pada batuan.

secara umum (meski tidak selalu) biasanya andesit teralterasi pada zona propilit (mengalami propilitisasi) karena aktivitas hidrotrmal mengubah btuan menjadi berwarna kehijau2an (curhat: ini banyak sekali dikavling maping gua sob.. haha) hasil aktivitas proses replacement dari mineral asli oleh kalsit, klorit, epidot, dan mika hijau (calcedonite). alterasi ini bisa membawa CO2 kedalam batuan, dapat juga mengubah tahap oksidasi besi, dan menghilangkan berbagai ion dalam batuan, maka secara signifikan juga akan mengubah kimianya :(

ok mari sekarang mari kita liat kimianya…

data analisis elemen major dan CIPW norm pada beberapa batuan andesit di berbagai tempat (NB: bukan punya gue punya orang.. hahaha thank’s to pak Raymond, 2002)

dari tabel kita liat TiO2nya rendah, mencrikikan batuan vulkanik di daerah subduksi (J.B. Gill 1981 hal 111). alumina juga barada pada kisaran 15-19%, ini yang membedakan andesit dan basalt (mafic) dan ryolite (felsic) dia lebih aluminus. karena kandungan plagioklasnya sangat tinggi. total besi bervariasi. kandungan Mg biasnya rendah dalam andesit kecuali jenis boninite dan andesit lain dengan kandungan silika rendah. Mg berada apda kisaran rata2 0.6 di daerah arc (J.B Gill 1981 hal 110) namun tinggi untuk andesit non-arc, seperti boninite dan high-Mg andesite lainnya (Zielenski dan Lipman 1976) nilai Lkali (Na2O dan K2O) bervariasi, secara signifikan dipengaruhi oleh perbedaan nilai K2O dan meningkatnya SiO2 dan peningkatannya jika memotong arc akan semakin tinggi jika menjauhi daerah subduksi (Dickinson dan Hatheron 1976 dan Ryan et al 1995).

arc berisi tholeiitic dan batuan seri calc-alkaline (Myashiro 1974). pada seri thoeliite, besi mengalami pengayaan pada kandungan SiO2 rendah sampai mengenagah. pda tahap awal evolusi magma sedikit besi berkurang dalam kandungan magma akibat kristalisasi., menghasilkan magma dengan kandungan besi tinggi (artinya fase mineral kaya besi akan menjadi fase firik). kemudian presipitasi (setelah akumulasi besi pada magma tadi memadat) fase larutan besi (iron-bearing) mengakibatkan menurunnya besi dalam magma yang kaya besi (setelah bermigrasi keatas meninggalkan besi besi tadi). bila melihat konvigurasi kurva di AFM (ilustrasinya dibawah) seri calc alkali akan menjauhi sisi FM menunjukan meningkatnya kandungan besi, karena silika meningkat.

diagram AFM menunjukan afinitas magma tholeiite dan calc-alkali

sekarang isotopnya bagaimana?? (ampuuuunn…. ngomongin ini mulu :D tenang sob, mau bagaimana lagi salahkan Arthur Holmes yang gila-gilaan ‘memaksa’ para ahli untuk menggunakan isotop sebagai salah satu acuan umum analisis geokimia). REE trend bervariasi diberbagai tipe andesit. secara umum, pengayaan REE diikuti pengayaan LREE yang secara sistematis mengaya siring meingkatnya nilai K2O. nilai K rendah untuk arc andesite, boninite, dan ocan ridge andesite tidak kaya LREE. unsur U, Pb, Rb dan Ba secara umum menigkat dengan kandungan K yang juga meningkat di batuan. (intinya K naik unsur bumi jarang (REE) juga naik).

rasio isotop bervariasi untuk setiap tipe andesit awalnya Sr87/Sr86 berada pada kisaran 0.703 sampai 0.710 di arc andesite dan mencapai 0.712 di kontinental, dan non arc andesite. Be mengaya secara signifikan. Nd rasio isotopnya juga bervariasi, di arc andesit menunjukan nilai lebih besar dan lebih kecil. secara umum isotop Nd rendah di MORB (yang berasosiasi dg andesite). dan isotop oksigen 18 juga rendah dalam gelas dan fenolris di arc lava (<12) (Eiler et al, 1998).

yang menjadi pertanyaan terakhir paling bagaimana petrogenesisnya (hadoooh… mabok lagi…. ah mabok lagi….. ckckckck)

berbicara petrogenesis berarti berbicara asal muasal magmanya seprti pada postingan sebelumnya tentang basalt kita sudah diskusikan berbagai model magma pembawa basalt ini. sekarang saatnya kita ‘telanjangi’ darimana magma andesit itu berasal…

setidaknya ada sekitar satu, dua, tiga… mm…. ada 8 (delapan) model petrogenesis dari magma andesit ini. model-model ini kebanyakan berhubungan langsung dengan arc (busur di di zona subduksi) karena memang andesit paling banyak disitu. versi wikipedia dibuat simpel: melawati proses fraksionasi (perubahan kandungan magma seiring menurunnya suhu dan kristalisasi fase yang ada di dalam magma) dan melalui proses magma mixing (du a jenis magma bercampur misalnya basalt dan rhyolit dimana andesit (yang intermediet) terbentuk hasil pencampuran keduanya). dua proses simpel ini sebenarnya sudah menjadi proses penting dalam ke delapan model yang akan kita ‘telanjangi’ mari kita lihat…

sebelum kesana mari kita perhatikan bagaimana para ahli mengajukan model model ini. data yang didapat dilapangan menunjukan bahwa andesit ini (lava/magma) melewati beberapa proses sebelum diproduksi. bukti yang menunjukan hal ini diketahui berdasarkan setting tektonik yang berbeda untuk tiap tipe andesit, trace dan isotop element, dan kimia major elementnya. misalnya nilai rasio isotop Sr yang rendah menunjukan ekilibrium mantel, sedangkan isotop andesit berada pada 0.710 sampai 0.712 menunjukan modifikasi dalam kerak.

hamir semua model menunjukan hubungan andesit dengan proses yang terjadi pada zona subduksi. namun model ini juga digunakan untuk andesit selain daerah arc (loh??), apa yang membuat magma andesit ini bisa terbentuk? urutan keterjadiannya bagaimana? dan lain sebagainya.. mari kita lihat bagaimana menjawabnya.

untuk menjawab pertanyaan diatas, kita akan membahas 1. berbagai model petrogenesis andesit, 2. data yang relevan untuk model in apa saja supaya informasi berharga bisa didapatkan untuk menjelaskan prosesnya.

dibawah ini ada skema gambar zona subduksi dan lokasi tempat terjadinya generasi magma karena bahasan kita andesit kita akan melihat bagaimana keterbentukan si magma andesit ini berevolusi dari magma lain. simbol hurufnya untuk tiap titik (lokasi) generasi magma ini ada A (lingkungan subcrustal), B (lempeng oseanik), C (sedimen pada lempeng oseanik), D (kedalaman intermediet (pada lempeng yang menunjam), E (upper mantel peridotite), F (crust mantle interface), G (batuan di dalam lempeng yang kaya akan feldspar atau amfibol), dan H (shallow crustal, diisi batuan sedimen dan volkanik), dan I (upper matnle yang paling dalam diisi oleh material mesosfer), dan J (shallow matnle dibawah continental rift zone). air tentu saja ikut dalam generasi in karena mengingat air itu di permukaan bumi dan litosfer (dalam batu) cukup signifikan.

skema gambar magma genesis untuk andesit (berlaku untuk semua magma di arc sih sebenernya) thank’s to pak Raymond… (terima kasih bajakannya pak…) :P

proses yang terjadi dalam formasi magma andesit termasuk didalamnya: anateksis, kristalisasi fraksional, magma mixing, assimilation, dan kombinasi dari proses ini (contohnya AFC a.k.a assimilation of fractional crystallization). berbagai jenis model baik arc dan non arc yang menyatukan proses proses diatas berbeda dalam setting tektoniknya. nature dari sumber magma, dan proses ini mempengaruhi perbedaan jenis magma yang diproduksi. beberapa model (hampir semuanya sih) menjelaskan keterbentukan arc andesite dan tentunya dianggap aplikatif juga untuk andesit di non-arc, dimana proses ang terjadi kurang lebih sama (generasi magmanya dari mantle melalui proses2 yang disebutin diatas).

karena produksi magma di arc bergantung pada subduksi, memahami arc-magma-forming process perlu juga memahami prilaku dari lempeng yang tersubduksi dibawahnya (karena dari sinilah banyak magma diproduksi O.O). batuan yang berada diatas dan sedimen yang mentutupi atas lempeng (oseanik) kemungkinan telah kontak langsung dengan ari laut dan mengalami proses hidrotermal yang menyebabkan terjadinya metamorfisme (itu pasti! kata slank). sebagai hasil dari subducting plate yang ‘basah’ karena kandungan airnya ini maka batuan kemungkinan masih membawa air dalam pori dan rekahannya (H2O-) bersama mineral yang mengikat air seperti zeolit, amfibol, dan hydrous mineral lainnya (H2O+).

ketika lempeng tersubduksi, terpanaskan, terhdehidrasi, dan termetamorkan. banyak ahli yang telah membuat model distirbusi temperatur di zona subduk ini. kontur temperatur (isotherm) subparalel dengan batas lempeng area ini menunjukan penurunan temperatur ke arah interior luar lempeng (dan menunjam tentunya sesuai lengkungan subudksi liat gambar di bawah). panas yang dihasilkan menyebabkan terjadinya dehidrasi dan metamorifsme).

bagaimana dengan metamorfisme di zona subduk ini (ah aku benci yang ini hehehe ;P) mungkin suatu saat nanti kita akan membahas batuan metamorf sob sekarang vulkaik dulu ye atu atu… metamorfisme (perubahan tekstur, minralogik dan kimia batuan) yang terjadi di zona subduk seiring dengan menunjammnya lempeng dipengaruhi oleh beberapa faktor: temperatur awal lempeng, temperatur dari mantle wedge yang ada diatasnya, panjang/lamanya waktu subduksi yang terjadi, jumlah litosfer yang tersubduksi (kurang jelas yang ini nih.. volumenya kali yah), tingkat subduksi (subduction rate), sudut subduksi/penujaman (angle of subduction), jumlah frictional heating dan shear stress yang hadir sepanjang batas zona subduksi. kurva hubungan tekanan, kedalaman, temperatur tleah dibuat oleh Wyllie (1983), kurva istoerm (Marsh) yang juga menghiutng ‘corner flow’ dari zona subduct. sementara para petologis lain seperti Hamilton (1969), raleigh dan Lee (1969), Ringwood (194), Fyfe (1975), dan lain lain lempeng yang menunjam ini (yang turun kebawah) akan mengalami dehidrasi progresif (gambar ke tiga dari ilustrasi 8.6 dibawah). pada kedalman yang dangkal pada tekanann yang tinggi dan temperatur yang tinggi juga akan memlai terjadinya reaksi pada sedimen dan batuan vulkanik di lempeng (Aizawa et al 1999), reaksi metamorfismde yang terjadi disini menghasilkan CO2 dan H2O juga gas metana (CH4). fase fluida akan berevolusi dan mengingkat ke atas lempeng. karena lempeng mendekati kedalman dekat 30 km, bsalt dan gabbro dari plat yang menunjam ini akan mulai berubah menjadi eclogite, suatu jenis batuan anhidrous. selama waktu subduksi, fluida C-O-H akan berlanjut terbentuk dan keluar ke lempeng bagian atas. ketika lempeng tersubduksi bagian atasnya jadi kering, namun defluidalisasi dari lempeng bagian bawah akan ditingalkan karena fluida ini bermigrasi secara paralel atau keatas mengikuti gradien termal.

isotherm curve in subduction zone

pada kedalaman 80-120 km, serpentin dan amfibol pada bagian basal (bawah) dari kerak dan subcrustal matnle akan mengalami dehidrasi, dengan resultan fluida yang bergerak ke atas lempeng atau diatas mantle wedge (J, M Delaney dan Helgesson, 1978) unsur yang ditransportasikan oleh fluida ini mengubah kimia dari batuan yang diterobosnya. fluida ini dihasilkan oleh reaksi dehidrasi yang menggambarkan temperatur melting dari lempeng oseanik yang tersubduksi, namun masih diperdebatkan apkah hasil dari reduksini ini cukup untuk menyebabkan melting di bawah kisaran gradien geotermal berdasarkan studi geofisika yang telah dilakukan. beberapa sedimen akan mengalami lmeltign (Nichols et al 1996). sementara fluida yang memasuki mantle wedge akan memicu terjadinya metamorfisme dan anteksis.

Model dari Formasi magma andesit

diatas sudah dijelaskan dan gambar diatasnya lagi (8.5) menjelaskan lokasi generasi magma pada zona subduksi. kita akan membahas ke delapan model populer berkatian dengan keterbentukan andesit dari ilustrasi gambar diatas. kurang leihb secara umum jika disimpulkan dari ke delapan model maka diketahui arc andesit terbentuk memerlukan: (1) subduksi; (2) dehidrasi, (3) metasomatisme dari fluida aktif yang akan merubah komposisi mantel, (4) flux melting, yang dipicu (diinduksi) oleh fluida plate yang tersubduksi, yang merupakan bagian penting dari magma perimer yang membentuk lava, (5) mantle flow, merupakan bagian penting juga untuk proses generasi magma dan dapat memudahkan generasi melalui proses kompresi atau dekompresi (Iwamori, 1997), dan (6) modifikasi dari berbagai arc magma, melalui mixing, fractionaniton, dan assimilation, yang hadir saat magma tererupsi.

1. Anateksis dari sedimen yang tersubduksi (Model 1 C plus minus B) —> huruf ini ada di ilustrasi 8.5 diatas.

pada model in peristiwa anateksis (proses peleburan/melting dari batuan) dari sedimen yang tersubduksi (C) plus minus lempen oseanik (B) akan menghasilkan magma arc-andesit.

sedimen yang ererosi di kontinen akan memioliki nilai rasio isotop Sr dan Pb yang tinggi. data dari arc andesit ini serta major elemen, trace element, dan khususnya isotop Be yang memiliki waktu paruh 1.5 juta tahun (Bowen 1982). Be ini diproduksi di atmosfer, ditransfer oleh hujan, diserap oleh sedimen dan tanah. waktu paruh cukup untuk isotop ini hadir sebagai unsur jejak dalam seidimen yang iktu bergerak bersama lempeng subduksi dan kembali lagi ke permukaan melalu9i transportasi magma, tapi Be tidak bisa bersiklus ulang kmbali kembali ke sedimen karena sudah berada dalam arc magma.

tapi tetap saja model adalah model, tidak semu dari isotop Be yang mendukung mayoritas magma andesit adalah berasal dari sedimen, beberapa trace elemen study yang mengindikasikan bahwa kuantitas sedimen juga berperan dalam generasi magma hanya sedikit (0-10%) jadi gak banyak sob… seta percobaan melting of sedimen yang dilakukan beberapa ahli (Winkler, 1965) tidak menunjukan bahwa cairan andesit berasal dari sedimen dari kecocokan kimia major dan trace elementnya. lebih lanjut lagi, data tidak mensuport model ini. dan tidak ada juga kasus yang menarik minat para ahli untuk mencari bukti lanjut bahwa volume besar dari hasil melting sedimen ini membawa andesit..  semoga… suatu saat ada ya sob… (jama’ah… ooo jama’ah.. alhamdu…. lillah…) jangan serius ah bacanya.. haha

2. Anateksis dari basalt crust (F,G) (Model 2)

model kedua ini diajukan oleh petrolpogis berdasarkan notasi bahwa anateksis dari basalt crustal rock (batuan yang berada didasar lempeng) hasil panas dari tektonisme akan menghasilkan atau magma basaltik yang ada dibawah lempeng akan menghasilkan magma primer andesitis (F dan G). Pichler dan Ziel (1969) dan lainnya mengajukan beberapa bukti yang mendukung crustal anatexis ini.

  • absennya bsatl ‘murni’ dari volcanic section di Chilean Andes.
  • data trace elemen (isotop Sr tinggi) yang mendukung keterlibatan kerak.
  • asosiasi dekat dari keberadaan aluminous ryolite dan andesite dalam hubungan ruang dan aktu, yang menggambarkan hubungan gengeik.

namun, basalt sendiri bukan tidak ada di Chilean Andes (Deruelle, 1982); F.A Frey et al 1984;Lopez-Escobar 1984), atau di daerah dimanapun andesit hadir. bukti lebih lanjut lagi sudi isotop dan analisis elemen jejak dari andesit dan batuan yang berhubungan tidak konsisten terhadap crustal resource ini (Pearce dan Peate 1995, Bacon et al 1997). selain itu, produksi magma andesitis oleh crustal anatexis tidak terjadi karena kimia dari batuan alam tidak cocok seperti yang diprediksi oleh crustal anatexis model (J.B Gill 1981).

3. Anatexis dari kerak tersubduksi (B) plus minus mantel (A) (model 3)

oke, pada model ini anateksis mantel tersubduksi (B) plus minius mantel (A) dapat menghasilkan magma primer untuk arc-andesite (B.D Marsh dan Carmichael, 1974). pada model ini, kerak oseanik yang mafik, berubah menjadi eclogitie selama subduksi, melting dan menghasilkan magma andesit primer. magma adakit diajukan sebagai porduk dari hproses ini. bukti lain dari proses ini dihasilkan melalui hasil studi melting, perhitungan teoritis, dan data elemen mayor dan jejak.

namun, (hmm.. lagi lagi kayak dosen aja ngritik terus hihihihihihi), terdapat beberapa masalah dan tidak dapat menjelaskan origin dasri kebanyakan andesit calc-alkaline. pertama, kimia dari kebayhakan andesit, termasuk kehiadiran REE, tidak cocok dengan prediksi atau hasil studi studi percobaan melting (T.H Dixon dan Batiza 1979). kedua, sebagaimana telah dijelsakan diatas, kebanyakan model termal dari zona subduksi tidak memprediksi tingginya temperatur untuk cukup meleburkan batuan kerak tersubduksi pada lokasi yang dekat dengan bagian atas lempeng dibawahnya (hahaha pusing yah pokoknya temperatur disitu tidak cukup meleburkan batuan kerak tersubduksi ini agar sepenuhnya mengalami anateksis membentuk magma baru). ketiga, model ini tidak memudahkan pencampuran secara besar besaran atau fraksionasi selama pembentukan formasi andesit, tapi banyak bukti yang menunjukan bahwa fraksionasi merupakan proses yang signifikan (J.S Beard, 1986). keempat, model ini gagal menjelaskan asosisi umum dari basalt dan adnesit di arc. kelima (anjrit kasian amat nih), model fase akilibria menunjukan bahwa andesit hihg alumina, termasuk adakite, bukan merupakan primary melt (Myers and Johnston, 1996). maka, melting dari lempeng oseanik sebagai model dari produk magma andesit bertemu dengan berbagai masalah untuk adakitenya sendiri… kasian…. :(

4. Anateksis dari pirolite dan piroksenit dengan kristalisasi fraksional (model 4).

model Pyorlite-pyroxenite dari Nicholls dan Ringwood (11973), sebagaimana telah kita diskusikan di postingan basalt. menunjukan adanya anatexis dari batuan mantel untuk memproduksi magma andesit yang melibatkan rangkaian proses yang kompleks: (1) dehidrasi dari zona subduksi, melalui konversi batuan meta-igneous dari lempeng oseanik membentuk eklogit plus fluidanya (B), (2) dehidrasi dan konsekuensi terbentuknya diapir pirolit yang naik keatas, (3) anateksis dari produksi tholeiite (E), (4) anateksis subsekuen dari mantel tersubduksi atau kerak eklogit (B) untuk menghasilkan siliceous melt (leburan magma yang lebih siliceous), (5) infiltrasi (pendauran) dari melt dan fluda dari subductin gslab ini kedalam matnle wedge untuk membentuk garnet piroksenit, yang naik keatas secara diapirik, (6) melting dari mangle diapir (D, E), dan (7) krisalisasi fraksional pada pada ketinggian lebih atas dari litosfer (E,F, dan G?) untuk membentuk magma calc-alkali basalt, andesit, dasit, dan ryolite dan tipe batuan yang menyertai mereka.

model ini menjelaskan proses komplek dari formasi magma dan modifiksi nya yang dapat mnjelaskan generasi dari magma rendah Mg, yang tidak menggambarkan primary mantle melt. model ini mencoba menghitung ragam karakteristikkimia dari arc andesit yang muncul. rasio isotop Pb menggambarkan keterlibatan sedimen atau crustal involvement (Barierro, 1984), dan resirkulasi air laut dapat meningkatkan konsentrasi K (R.W. Kay 1980). Be menunnjukan daerah source magma (Brown et al 1982). model in juga menjelaskan nilai Ni rendah (karakteristik andesit) dan konsentrasi race element lainya (S.R Taylor 1969). juga berkugannya pola HREE konsisten dengan model tua tahap pirlit piroksenit yang mlelibatkan fraksionasi (lopez-Escobar, 1984).

banyak studi percobaan telah dilakukan untuk model ini dan nampaknya berhasil (I.A. Nichollss dan ringwood, 1972). sebagai contoh percobaan simulai second-stage hybridization of mantle by siliceous melt dapat menghasilkan piroksenit (atau peridotit), sebagaimana diperediksikan, tapi major dan trace elemennya tidak menunjukan jenis batuan yang akan membentuk andesit (Johnston and Wyllie, 1989). tapi garnet sisa hasil produk batuan mantel ultramafik (atau dalam eclogite misalnya) akan menghasilkan formasi magma yang menunjukan pla HREE-depleted REE yang curam (gambar bawah), dan beberapa percobaan yang berhubungan tidak menunjukan adana siliceous melt yang penting dihasilkan dari subductin slab (C.R Stern dan Wyllie, 1981). jadi model ini sepertinya tidak konssten untuk data dan batasan untuk genesis magma andesit.

pola kurva REE untuk arc andesit

5. anateksis batuan mantel (model 5)

model ini menjelaskan keterjadian antexis pada batuan mantel (A,D, dan E, I atau J) menghasilkan magma baaltik atau andesitis primer yang akan naik keatas membentuk andesit melalui kristalisasi langsung dari magma andesitis atau membentuknya melalui modifiasi magma basaltis (M.J> O’Hara, 1965). ide yang melibatkan kristlaisasi andesit adalah magma andesit priemr mungkin diproduksi melalui partial melting dari batuan mantel -karena dekompresi atau fluid-induce melting- dibawah rift zone (I), dalam subducting plate (A), atau dalam mantel wedge diatas subducting plate (D-F), bukti yang mendukung model ini adalah mineralogi, kimia, ekspreimen, dan teoritis. rasio isotop Nd, juga nilai isotop Sr yang rendah dari batuan arc  yang ‘tak terkontaminasi’, konsisten dengan sumber mantel.

beberapa bukti menyebutkan bahwa magma andesit primer dari beberapa tipe yang diteliti memiliki kandungan nikel tinggi, MgO rich olivine, dan Cr2O3 kromit dalam batuan andesit kaya Mg, lampropyre, dan boninite menunjukan jenis khusus dari batuan yang mewakili magma mantel priemr (Suzuki dan Shiraki, 1980).

apakah calc-alkaline andesite magma diproduksi langung melalui melting? studi melting eksperimental (T.H Green dan Ringwood, 1968) dan pemahaman teoritis (Mysen, 1983) menunjukan bahwa cairan menyerupai andesit dapat dibentuk dari dalam basuan mantel (sperti eklogit atau spinel lherzolite) observasi ini mengarahkan Tatsumi dan Ishizaka (1981) untuk mengetahui bahwa semua andesit calc-alkaline pada setauchi volcanic belt Jepang dapat berdrivasi dari magma andesit primer. meskipun kita tidak pernah tahu seperti apa kondisi dan kmia wari mantel sebenarnya.  banyak debat yang mncul seperti beberapa eksperimen menunjukan bahwa andeist liquid hanya dapat diproduksi dari CO2 bebas peridotit, tapi terdapat alasan lain yang diyakini bahwa upper mantel tidak secara umum CO2 free (Boetcher, 1975). selain itu studi eksperimen lainnya menyatakan bahwa andesit likuid yang hadir dalam peridotit berada dibawah kondisi ekilibrium, dimana para ahli ini menyatakan kandungan H2O mesti 14-25 wt % (J.B Gill 1981 dan Wyllie 1978, 1979, 1982). namun andesit yang dijumpai pada data lapangan menunjukan kadar yng kurang dari 5 wt% dari H2O.

selain itu argumen lain datang dari para ahli yang menyatakan bahwa nilai magnesium untuk calcl-alkaline arc andesite umumnya terlalu rendah yakni sekitar 0.6 untuk menghasilkan primary mantle melt. akhirnya tidak ada penjelasan yang lebih jauh lagi untuk menunjukan asosiasi dari basalt dan andesit ini untk model ini. maka meski model ini banyak dipakai oleh yang lain, tapi ahli lainnya juga masih mendebatnya… similikiti weleh weleh..

namun apapun perdebatan yang muncul model nomer 5 ini merupakan model modofikasi dari magma basalt untuk formasi andesit yang paling banyak dipakai (Pearce dan Pete, 1995)

6. kristalisasi fraksional dari magma basalt (Model 6).

beberapa magma andesitis dan yang berhubungan dapat terbetnuk melalui hasil kristalisasi fraksional dari magma basaltis yang diawali dengan anateksis yang terbentuk pada kedalaman (D,E,F,H, dan I). ketika Bowen (1928) mengajukan ide ini, kristalisasi fraksional dari magma basaltis telah diterima secara luas sebagai proses yang menjelaskan origin (asal usul) dari andesit. meskipun terdapat pross yang lain yang dianggap dapat memodifikasi kimia magma, fraksionasi seacara umum dianggap penting. pada dasarnya, dalam proses ini terjadi fraksi (pembagian) kristalisasi dimana mineral mineral seperti plagioklas, ortopirksen,olivin, augit, hornblend, dan magnetit trdristalisasi dan terpisahkan dari magma basaltis, membentuk magma baru yang kaya silikda dan alkali dan deplesi (minus) besi dan magnesium. terjadi perdebatan dimana menanyakan apkah amfibol, magnetit, atau fase lain merupakan mienral fraksionasi kunci. pada model ini, detail mineralogi dan lokasi fraksionasi, dapat terjadi pada kerak (G, H) atau mantel (E), atau juga dapat bervariasi.

dimana andesit (sensu lato or secara umum) berkembang pada beberapa hot spot atau sepanjang MOR, kristalisasi fraksional dari olivin, plagioklas, clinopx, dan oksida Fe-Ti kemungkinan dapat menjelaskan trend unsur major dan tracenya. anomali negatif dari anomali europium menunjukan fraksionasi plagioklas.

berbeda dengan kimia arc andesit tidak mudah menjelaskan kristalisasi fraksional sendirian, meskipun berbagai argumen mendukung proses ini. pertama, andesit secara khas berasosiasi dengan basalt dasit, dan ryolite dalam hubungan ruang dan waktu, tiap asosiasi basalt-andesit-dasit-ryolite pada daerah khusus menunukan garis halus pada diagram variasi. juga, basalt dan andesit dari gunung api yang sama memiliki rasio isotop Sr dan Nd yang sama (r.J Stern, 1979). data ini menunjukan bahwa batuan consanguineous (induk yang sama/same parent). kedua, persetujuan yang muncul dari: (1) perhitungan komposisi fase yang hilang dari magma basaltis via kristalisasi fraksional (untuk membentuk magma andesit), dan (2) fase firik modal dalam batuan itu sendiri. ketiga data unsur jejak dari bebarapa gunung api menyajikan bukti kuat dari fraksionasi (J.A Nicholls dan Harris).

tapi tetaplah tapi :P. argumen argumen ini tidak semuanya konklusif. kurva yang halus dari variation diagram juga biasanya mendukung proses dari magma mixing dan assimilation, dan basalt dan andesit rupanya tidak cnsanguineous di berbagai tempat (Tatsumi dan Ishizaka, 1982). lebih jauh lagi, kehadiran rasio isotop yang identik dapat mengungkapkansumber yang sama dari magma, tidak menunjukan hubungan induk-anak magma. juga dari percobaan dan studi teoritis lain menunjukan bahwa fraksionasi tidak dapat menghitung jalur fraksionasi basalt ke andesit. (Tilley ,1950 Eggler dan Burnham, 1973). akhirnya bila disimpulkan seandainya andesit memang berasal dari basalt melalui fraksionasi, seharusnya mereka (basalt) banyak terdapat di plume, rift, dan lingkungan arc, kenyataanya tidak.

terlepas dari pandangan yang bertolak belakang ini, fraksionasi kemungkinan proses utama terbentuknya kebanyakan arc andesite (J.B Gill, 1981). pada kebanyakan arc-andesite province, hal ini dapat menjelaskan variasi kimia dari andesit, tapi kimia dari trace elementnya memerlukan proses lain yang mampu menjelaskan genesis magma.

7. anateksis mantel plus asimilasi batuan kerak (model 7)

kontaminasi (hibridisasi)_ dari magma induk basaltis yang dibawa dari mantel yang melewati anatektik serta melewati assimilasi dengan batuan kerak akan mengahsilkan batuan andesitis dan yang berhubungan (F, G, H). asimilasi merupakan ide yang lama di bawa oleh Daly (1933). pada argumen petrogenetik modern, hal ini jarang dianjurkan sebagai proses modifikasi dalam formasi andesit, sementara asimilasi dianggap sebagai proses yang simultan dengan fractional crystallization (AFC) atau proses lainnya, atau proses yang telah tejradi lebih awal (DePaolo 1981).

dalam ekrak (F, G, H), silika dan komponen felsik lainnya, dan trace elemen dapat masuk kedalam magma basaltis yang dibentuk dalam mantel menghasilkan magma andesitik (Fenner, 1926). bukti yang mendukung ide ini termsuk: (1) trend major elemen dan pada variation diagram, (2) rasio tinggi dari Sr, Pb, Nd, dan O. bukti lain yaitu hadirnya xenolith dari ‘granulite’ (yang dianggap sebagai batuan kerak dangkal), granit, dan batuan lainnya yang dijumpai baik dalam andesit maupun basalt dengan andesit.

penjelasan umum untuk arc dan genesis andesit di oseanik, asimilasinya juga gagal. karena; pertama, banyak andesit yang hadir tidak diketahui crustal rocknya hasil asimilasi, keuda, superhead magma (magma panas) memerlukan melting untuk dapat berasimilasi dengan batuan (suatu saat akan kita bahas). ketiga, asimilasi melibatkan kerak dan basalt sebagai tahap akhir tidak dapat menjelaskan kimia, khususnya distribusi usnur jejak, dari volume arc andesit (J.B Gill, 1981).

terlepas dari pandangan ini, Hildreth dan Moorath (1988) mengajukanmodel yna dikenal dengan MASH model, yang menjelaskan karakter magma andesit dan dasit dibentuk dari hasil mixing, assimilasi, storage (penyimpanan), dan homgenisasi dari magnel dan magma kerak (crustal magma) batas kerak-matnel (F). pada model seperti ini, kontribusi dari kerak benua dapat menjelaskan beberapa elemen mayor dan ciri isotop lokal dari andesit.

8. pencampuran dari magma (Magma mixing) (model 8) —–> horeeee… yang terakhir..

hasil mixing dari magma siliseous danbasaltis membentuk magma andesitis merupakan jenis proses keterbentukan andesit  paling umum. sepreti kebanyakan ide petrogenetik, ide magma mixing ini menghasilkan secara komposisi melt intermediet merupakan ide yang udah jadul juga (Fenner, 1926). ide ini dibangkitkan lagi oleh Eichelberger (1975b) menghitung andesit dan dasit pada daerah sikum pasifik didukung juga oleh studi lain (Kouchi dan Sunagwa 1985, Toermey et al 1995). prosesnya sederhana, memerlukan setidaknya dua jenis magma (basalt dan ryolite) bercampur dalam dapur magma (F, G, H) untuk membentuk magma berkomposisi intermediet yang kemudian tererupsi dan terkristalisasi membentuk batuan beku.

maka dari konsep ini kita ketahui bahwa magma dengan jenis berceda mesti hadir di suatu lokasi (dapur magma) pada waktu yang sama untuk menghasilkan magma baru ini. tapi sepertinya hal in sulit terjadi (dipostingan lain akan kita bahas). hal ini terjadi karena magma basalt yang naik keatas dari mantel akan terefraksionasi dan membentuk riolit atau dapat juga melting pada bagian bawah kerak untuk membentuk magma ryolit. masalahnya ketika magma ryolitis ini memerlukan campuran magma basalt yang tentu saja harus berasal dari bawah (lebih dalam) naik keatas maka diperlukan energi yang memiciu magma basalt ini untuk naik berupa pans dan gas-charged agar magma baslt ini mau naik ke atas dapur magma.

bukti yang mendukung keterjadian magma mixing ini berupa mineralogi, kimia, dan eksperimen. di lapangan basalt, andsit, dasit, dan ryolit dapat secara erat berhubungan secar spasial dan temproal., dengan alternsi jenis vulkanik lain pada area yang sama. hugungan ini menunjukan hubungan genetik dari batuan-batuan tersebut. bukti lainnya datang dari keberadaan xenolith dan xenocryst dalam batuan intermediet ini, seperti inklusi basalt dalam dasit arau Mg-olivin dan kuarsa dalam fenokris andesit. fenokris plagioklas mencirikan perbedaan komposisi dan hal ini menunjukan bukti penyerapan kembali dalam intinya yang juga dianggap sebagai matifestasi dari mixing (Eichelberger, 1978a). secara kimiawi, komposisi dari variation diagram berupa garis lurus antara (yang dianggap sebagai) komposisi akhir adalah konsisten dengan mixing model. selain itu simulasi lain menunjukan bahwa studi eksperimental dari mixing ini dapat terjadi dalam waktu yang cepat (Kouchi dan Sunagawa, 1983).

berlawanan dengan model magma-mixing, bahwa ciri fisika dari magma yang terlibat dalam mixing tidak dapat terjadi (McBirney, 1980). namun, jika magma mixing terjadi secara efisien melewati proses pencampuran maka akan rusak. sebagai konsekuensinya, beberapa petrologis menganggap absennya bukti yang menunjukan hilangnnya proses. bukti disekilibrium melibatkan kumpulan xenokris dan fenokris dan xenolit juga dapat menunjukan asimilasi dari solid rock dibandingkan magma mixing. akhirnya, kehadiran andesit dimana riolit absen, jarang, atau tidak dapat menjadikan bukti bahwa magma mixing merupakan satu satunya proses (model petrogenesis) yang membentuk formasi magma andesit.

nih gua masukin lagi gambar generasi magma di subduction zone (arc setting) simbol hurufnya untuk tiap titik (lokasi) generasi magma ini ada A (lingkungan subcrustal), B (lempeng oseanik), C (sedimen pada lempeng oseanik), D (kedalaman intermediet (pada lempeng yang menunjam), E (upper mantel peridotite), F (crust mantle interface), G (batuan di dalam lempeng yang kaya akan feldspar atau amfibol), dan H (shallow crustal, diisi batuan sedimen dan volkanik), dan I (upper matnle yang paling dalam diisi oleh material mesosfer), dan J (shallow matnle dibawah continental rift zone).

Pusing kan sob? ia gua juga pusing.. hahaha

kurang leibh itulah 8 model formasi magma andesitis yang membentuk batuan andesit untuk model arc andesit.

karena tidak semua model dapat menjelaskan asal muasal andesit ini secara lengkap maka banyak petologis yang mengajukan model komposit dimana model ini menggabungkan semua model-model diatas plus satu proses yang dikenal dengan metasomatisme, dimana alterasi batuan secara kima oleh fluida aktif. (wah yang terakhir gua gak kebayang sob alterasi dibawa bawa hahaha).

kesimpulannya.. arc andesit merupakan derivative dari magma yang dihasilkan dari sejarah komplek dari modifikasi. berasosiasi dengan dasit, ryolit, dan asalt yang juga memiliki sejarah yang kompleks. karena dapat dipahami bahwa andesit ini secara kimiawi cukup kompleks maka, berbagai kombinasi proses genetik magma dapat terjadi mulai dari fractional crystallization, anatexis, assimilation, metasomatism, dan magma mixing dapat terjadi membentuk batuan ini.

batuan andesite lain seperti adakite, boninite, dan andesit hihg-Mg mungkin menunjukan melt primer, terkadang berasal dari hasil modifikasi mantle wedge (Myers dan Johnston, 1996). sedangkan andesit lain, seperti oceanic spreading center atau hotspot misalnya, dapat berasal hasil crystal-liquied fractionation dari basalt tholeiitic pada kedalaman dangkal….

contoh formasi andesit yang terkenal ada di Aleutian arc dan cascade range amrik… di Indonesia ada dimana??? sepanjang gunung api di pulau jawa sampe Nusa tenggara… (gak termasuk Timor leste ya om..)

mau ketemu andesit langsung?? naik angkot coklat jurusan Cileunyi-Sumedang nah pas lewat perumahan panorama (bilang ke mamang sopirnya) stop disitu naik keatas masuk ke panorama jalan terus sampe mentok dibelakang komplek perumahan itu ada gunung geulis  ada yang lagi blasting nambang andesit disitu… dekat sekali sama kampus ‘tergila’ kitah… haha

sekian postingan kali ini ditunggu caci makinya brother… heolohi heolohi heolohiiiyyy!!!!! wakakakakakak

wabillahitaufik wal hidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

seperti biasa ini cuma galeri tambahan..

ini gambar sampel andesit di Inyo mountain California (warnanya agak pink begitu menunjukan massa dasarnya felsic abizzz dan fenokris yang terlihat sebagai fase firik adalah alkali feldspar kata situs ini: http://geology.about.com/od/more_igrocks/ig/phenocrysts/phenocryst-inyo.htm

yang ini andesite ‘sejati’ (berjuang dengan hati.. kau yang sejati… sejati emang bikin bangga.. hahaha rokoknya pajri..) kalau maen ke gunung geulis kirang langkung siga ieu gambarna kang… tapi ini bukan sample dari gn geulis ini ‘penampakan’ andesit yang umum dijumpai di mana mana (arc andesite) ini andesit di foto sample dari tak tahu dari mana tapi fenokris item yang ada di batu dina foto adalah hornblenda kata: http://www.pitt.edu/~cejones/GeoImages/2IgneousRocks/IgneousTextures/4PorphyriticFineGrained.html

lava andesit berstruktur autobreksi (courtesy: doc pribadi

andesit dengan tekstur afanitik (courtesy: doc pribadi)

andesit dengan xenolith batuan mafic (maybe basalt?) dan xenolith ultramafik bertekstur faneritik (entah gabbro?) (courtesy: doc pribadi)

About seni mencintai batuan apa adanya

our most late but not the last.... I'm just an ordinary geologist with many many.. surely many many foolish questions in his head.... (banyak sekali hasil karya orang saya 'culik' baik dalam negri maupun luar negri :mrgreen: so please..... cantumin juga sumber penulis 'isengnya' di blog ini, kalau isinya mau 'diculik' sama pembaca... tapi siapa gue? :?: arrrrgggh.. lupakanlah.. :cry: ) ~seorang otodidak payah... payaaaaahhhh.. sekali :'( :'(
This entry was posted in Beku, Petrografi, Vulkanik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to andesite dan batuan yang ‘menyertainya’… (model petrogenesis andesit secara umum)

  1. hahaha
    bukannya aku mudeng mlah tambah puyeng
    terlalu jelas sih :D
    tapi thengs ya, pak dhe

  2. raywildan says:

    mbah sket,,manteph nih pemaparannya..
    ane jg msh nyari tahu apa batuan selevel andesit bisa serumit ini analisisnya,,apalagi ente jelasin secara megaskopis..
    menurut ane analisis megaskopis yg bs mendukung anpet ada 3 doank:
    1. formasinya dan formasi sekitarnya
    2. asosiasi batuan lainnya
    3. proses terbentuknya

    naah,,pertanyaan ane mbah,,dari pemaparan di atas yg bs lbh mempermudah anpet sbenernya yg mana aja mbah?
    moga makin butek mbah,,karena dari butek rata2 makin sering ilham mampir di kepala kita,,hehehe

    trims & maju terus the koist

    • thekoist says:

      semuanya pak dhe…. semuanya bisa jadi pertimbangan kalo menurut ane…
      untuk proses terbentuknya (point 3 yg pak dhe buat) berkaitan dengan point diatasnya (batuan disekitarnya), analisis petrografi itu cuma sebagai tool (alat) untuk ‘mendukung’ interpretasi.. observasi dilapangan adalah kunci paling utama dalam menginterpretasi si batuan.. barulah ditambah analisis petrografi, studi isotop, dan geokimia bila ingin mengamati lebih detail mengenai proses-prosesnya (genesis atau originnya dan petrogenesisnya kl buat batuan beku).. yang tentu saja asosiasi formasi batuan sekitar perlu dipertimbangkan karena mereka sifatnya panekontemporer (kebentuk dalam satu waktu yang sama ataupun tidak) yang mungkin saja saling berkaitan dalam hubungan sejarah keterbentukan batuannya.. (khususnya buat si batuan yang kita amati)— silahkan baca artikel mengenai batuan beku dan asosiasi batuan lain yang menyertainya (dimana kehadiran batuan beku jenis lain bisa menjelaskan proses petrogenesis batuan beku yang diamati), atau artikel mengenai diagenesis pada batuan sedimen dimana fase autigenik dan lain sebagainya menyuplai banyak ion berharga dalam autigenetisasi yg bisa saja datang dari batuan (lingkungan) sekitar… atau studi mengenai provenance yang nanti mudah-mudahan ada waktu kita diskusikan…

      CMIIW….. ditunggu caci makinya pak dhe bila salah dan belum puas.. :D

      eh alumni asdos petro Raywildan.. sssst… dilarang nyebut merek disini nulis nulis nama mbah S*** (tuuuut… tuuuuuut.. disensor) disini…!! :D

      • raywildan says:

        soal merek,,ane mohon maap pak dhe,hahaha..
        hmm,,klo menurut ane sih urusan mendukung ama yg didukung bgimana perspektif jg pak dhe,,soalnya masih bnyk org yg beranggapan bahwa anpet-lah yg bs menentukan batuan tersebut secara detil,,mau dari origin ampe altered condition-nya pak dhe (hasil diskusi ama dosen-dosen 1 almamater :D..)
        okeh,,ane coba telaah lagi yg udah pak dhe saranin diatas,,moga makin tebel sense of geology kita pak dhe :D..
        Hail to the Koist!!

      • thekoist says:

        :D okeh okeh suhu…. :D
        kalo menurut ane pak dhe…, anpet (analisis petrografi) itu meski detail tetap sebagai analisis pendukung.. bukan yg utama… interpretasi kitalah yang paling utama… anpet (deskripsi mikroskopis) dan pemerian dilapangan (deskripsi megaskopis) dua2nya kan cuma data pendukung… coba bayangin kita cuma dikasi batunya doang (plus sayatan tipis) kita mau cerita apa pak dhe?? paling tentang deskripsi mikroskopis dari si batuan kan? tapi pasti beda kalo kita dikasih peta.. terus kita interpret.. baru untuk mendukung interpretasi kita itu, kita coba ‘comot’ beberapa perconto (sample) batuan yang mau dianalisis (sayat buat anpet atau digiling buat geokimia) pasti akan lebih sistematis pak dhe… coba kalo kita balik, ambil batunya dulu, sayat dulu seabrek abrek (karena bingung yang mau disayat yang mana).. baru kita bikin peta yang mendukung data anpet.. waah.. bakalan capek pak dhe… memang sih analisis anpet detail.. tapi dia kan pendukung interpretasi kita bukan data2 yg lain yg harus mendukung anpet itu.. istilahnya kita kan tidak memetakan satu genggam batu saja tapi skalanya kan gede dilapangan.. nah anpet itu akan membantu kita untuk meliat ciri/pemerian mikroskopisnya.. untuk ciri megaskopis kan bisa dijadikan acuan untuk menetukan batas litostratigrafi.. bila nanti hasil anpet yg ‘detail’ itu pun… bisa juga menunjukan interpretasi kita itu ‘salah’ atau malah dapat informasi yg lebih baru buat si batuan yg kita analisis.. (seperti kata pak dhe teralterasi dan sebagainya… dilapangan kan alterasi itu juga kadang keliatan kita pastiin lebih detil lewat anpet.. jadi lagi lagi.. anpet ini sebagai pendukung interpretasi.. ibarat ada dua geologist dilapangan lagi ngobrol “wah pak dhe ini batuan udah keubah nih..” ngobrol lagi yg satunya “iya tuh kayaknya banyak epidotnya ijo-ijo gimana.. gitu” dua-duanya geologis itu berintrpretasi dari data lapangan dari asosiasi batuan yang hadir dan asosiasi jenis ubahan yang muncul disekitarnya nah.. untuk menguatkan interpretasi mereka perlu disayat batunya itu apa benar mineralnya itu… lagi lagi akhirnya anpet ini sebagai tool pendukung)…

        salam, CMIIW

        ditunggu caci makinya pak dhe.. :D

    • thekoist says:

      wkwkwk baru sadar yg lu tanyain itu analisis andesit apa iya serumit itu ya?? haduh.. hampura suhu Om pak dhe tuuuut.. tuuut… disensor hahaha….
      artikel diatas cuma model ‘petrogenesis’ si andesit pak dhe.. namanya model kan dibuat orang … bukan analisis kita.. kl analisis mikroskopis doang mah… yaah.. gak rumit2lah pak dhe.. tapi kalo mau cerita petrogenesisnya seperti diatas (magmatisasinya, proses keterbentukannya/genesisnya, kenapa kok ada magma andesit itu, dia dari mana) itu perlu analisis isotop dan geokimia bukan cuma anpet doang pak dhe….. begitu dari ane pak dhe..

      CMIIW.. ditunggu caci makinya :D

  3. raywildan says:

    iya pak dhe,,ane maklumin..toh ane jg dalam rangka diskusi jd klo ada salah2 kata atw penafsiran,udh sebijaknya saling maklum pak dhe :D..
    hmm,kyny mulai jelas yg ane cari plus telusuri slama ini pak dhe,,emg bener ane sndiri bingung klo dikasih batu klo sumber2 atw info2nya pun kurang mendukung,bisa2 salah ngasih sayatan ke tukang nyayat atw analisnya ntar,hahaa..
    ane jd lebih “ngeh” ternyata anmeg jg perlu dipehatiin sblom anpet,dng kata lain musti ngasah lagi Rocks Interpretation in the Field nih :D

    oke pak dhe, ditunggu thread pengasah otak lainnya pak dhe
    thx bwat pemaparannya
    salam the koist

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s